Blak-blakan ala Prancis

Dulu saya pernah menulis tentang karakter orang Prancis, yang suka blak-blakan tanpa beban. Bikin lawan bicara mereka dari kultur lain, yang terbiasa unggah-ungguh atau lebih diplomatis, rasanya jadi iri atau kepengin nampol.🤣

Nah, ceritanya, kemarin saya ngobrol-ngobrol dengan seorang lulusan Prancis tentang suatu hal. Jujur dia bilang nggak tahu. Lalu bilang, ” Coba tanyain ke A.”

Saya memincingkan sebelah mata. Yakin, bisa tanya dia? Si A kan kebetulan petinggi di sebuah perusahaan yang ingin di selidiki. Normalnya pasti akan promosi dan merekomendasikan tempatnya kerja.

Tapi saya ingat, si A ini kan juga lulusan Prancis. Langsung. “Oke deh.”

Mengiyakan. Karena berdasarkan pengalaman kawan-kawan lulusan sana atau yang tinggal lama disana sudah mewarisi sekian puluh persen perilaku blak-blakkan-nya orang Prancis.

Kalau memang jelek ya jelek. Bagus ya bagus. Kalau tahu bilang tahu. Nggak tahu ya nggak tahu. Bukan merasa perlu sok tahu .

Khusus untuk “nggak tahu”, gestur populer orang Prancis itu seperti gambar di bawah ini. Sambil ngomong,

” Ben, sais pas!”☹

Gambar : pixabay.com

Tidak berarti lulusan dari negara lain nggak doyan blak-blakan. Atau semua lulusan Prancis ceplas-ceplos beropini. Ini ‘kan berdasarkan pengalaman saya saja, ya. Memang tergantung orangnya masing-masing.😁

Kadang suka ketawa sendiri, kalau ingat bagaimana kagetnya dulu saya dengan culture shock blak-blakan-nya orang Prancis. Walau pasti ada pengecualian, yaitu mereka yang lembut dan soft spoken, juga ada, ya.

Pelan-pelan saya mulai terbiasa dengan gaya bergaul mereka. Mulai mengapresiasi berbagai efek positif. Maklum di Indonesia, seringkali bilang, ya belum tentu ya (di dalam hati), bisa jadi cuma basa-basi atau nggak enakkan. Segar mengenal mereka yang bisa bicara apa adanya di dunia nyata.

Mungkin istilah berbahasa Inggris, “frank” macam istilah, “…frankly speaking,…” asalnya, ya dari model orang Frank alias nenek moyang bangsa Prancis?

Jujur kepada orang lain, tentang apa yang kita pikirkan itu butuh keberanian.

Orang Prancis biasa melakukannya karena didikan kultur yang membebaskan perbedaan pendapat. Nggak ada anak kecil yang dimarahin karena beropini atau mendebat guru! Undang-undangnya juga kuat banget untuk itu.

Sejak usia dini, kemandirian bangsa Barat cukup tinggi, nggak mudah bergantung pada orang lain. Semua bisa dikerjakan sendiri. Tidak disukai? Ya sudah. Nggak merasa nelangsa sampai berhari-hari karena memikirkan “gue bakal dibenci nggak nih?

Bicara apa adanya, jujur, itu rasanya membebaskan sekali. Sekali terbiasa kamu tidak akan pernah melupakannya. Apalagi kalau sudah belajar untuk selalu mempertanyakan dan mengkritisi. Klop banget kamu sudah mewarisi pemikiran ala-ala Prancis. Tempat dimana para ilmuwan besar lahir.

Gambar : pixabay

Menghadapi sikap blak-blak-an, butuh latihan keras dan kebesaran hati (kalau tidak terbiasa). Nggak bisa sedikit-sedikit tersinggung dan baper.

Atau seperti kasus di dunia maya Indonesia, sering banget komentar berseberangan (bukan yang kasar) macam di IG, Facebook, atau blog, bakal “dibersihkan” oleh pemiliknya. Entah di delete atau tidak dimunculkan. Sehingga isinya mereka yang senada semua, seperti sebuah paduan suara! Untuk kasus di grup WA, beda pendapat dikit, orangnya bisa di block atau di bully.

Saya nggak ngebayangin kalau ada orang Prancis yang melakukan perbuatan macam itu. Melihat perilaku demikian, mereka bakal mikir,

“Yaelah lo pade cemen amat. Serius, tuh?? Gitu doank??” 😳

Gambar : pexel.com

Bagaimana dengan benturan budaya orang Prancis di negara kita? Saya, sih pernah tahu kasus ekspatriat cewek Prancis yang dikelilingi rekan kerja cewek… di Indonesia. Dia mengalami masa-masa cukup berat, selama masa penyesuaian, karena ceplas-ceplos dan standarnya. Sampai di jauhin, lho. Kasian banget.

Tantangan perantau yang balik lagi ke Indonesia, terutama dari Prancis, adalah bagaimana cara supaya bisa menahan lidah agar tidak blak-blakan menyampaikan pendapat!

Saya ingat bagaimana sulit menahan diri untuk tidak bertanya atau memberikan komentar di sebuah paparan ala-ala “ceramah” dengan topik yang tidak masuk akal! 😂🤣 Tahu kan yang model gini? Yang di sanggah pasti bikin rame? Rasanya ingin angkat pantat mabur, sayangnya, harus ikut.

Lalu gimana caranya menahan gejolak jiwa? Biasanya saya menunduk, senyum-senyum sendiri, sembari mencoret-coret di notes berisi berbagai curahan isi hati. Mungkin sampai bikin orang yang duduk di samping mulai was-was….normalkah orang yang ada di samping gue? 😂🤣😂

Gambar : pixabay

Untungnya, manusia mudah menyesuaikan diri. Hanya butuh waktu beberapa bulan, sudah mulai beradaptasi, meredam jiwa semangat ’45 blak-blakan dan kembali ke mode diplomatis orang Indonesia. 😂

Melalui banyak trial dan error, saya belajar untuk menemukan “celah” atau “titik kompromi”. Sampaikan pendapat, tanpa membuat orang merasa diserang. Sesuatu, yang mungkin, orang Prancis sendiri tidak mau bersusah payah melakukan itu di negara mereka! 😂

Ok. Memang tetap sesekali sulit juga, kalau berhadapan dengan kasus psikis yang super sensitif, defensif, memiliki ketakutan mengakar karena trauma. Tapi itu nggak banyak, jadi secara keumuman hasilnya not bad lah…#cemungud 😁

Apakah tidak takut tidak disukai? Mengapa harus tidak disukai kalau saya berkata jujur?

Apa yang kamu harapkan? Supaya saya selalu mengiyakan apapun yang kamu sampaikan? Walaupun itu kemungkinan salah dan konsekuensinya bahaya?

Contoh : mengatakan dengan jujur garis friendzone kita kepada lawan jenis yang ke-pede-an. 🤣😂

Tentu saja ceplas-ceplos yang cenderung menghina dan bikin rusuh, nggak bener juga. 😅 Idealnya, harusnya kita bisalah menemukan cara pas untuk berkata apa adanya.

Gambar : pixabay.com

Kita nggak mungkin 100% meniru cara orang Prancis. Karena kulturnya sangat beda. Dibandingkan dengan negara tetangganya sendiri di Eropa, Prancis itu memang unik. Mereka adalah negara pertama dalam sejarah menumbangkan monarki absolut dan menjadi republik. Mencoba menerapkan demokrasi, ketika rakyat di negara Eropa lain masih takut kehilangan leher saat akan melakukannya.

Kebebasan berpendapat yang diterapkan, tentu tidak hanya di media sosial dengan nama anonim saja.😅 Saking itu adalah hal biasa, rasanya sering banget dulu di Paris saya mendengar orang lagi pada demo protes. Saya tahu itu karena dulu sering ngider di lokasi favorit yang dikhususkan untuk demo. 😂 Bukan di menara Eiffel tentunya. 😁

Dari yang dipelajari selama ini, saya ingin berpesan, banggalah terhadap apapun pemikiran yang kita sampaikan. Karena yang seringkali disesali di kemudian hari, justru karena kita tidak menyampaikannya.

Kamu punya pengalaman apa dengan perilaku blak-blakan?

Gambar fitur : pexel.com oleh Ekatarina


2 thoughts on “Blak-blakan ala Prancis

  1. Blak-blakan dalam berpendapat memang masih belum jadi budaya di Indonesia, Meskipun kadang kita punya pemikiran/pendapat yg mungkin cemerlang, tp kita ga berani mengutarakannya, takut dikomen negatif, takut dibully, takut ga ditanggapi, jadi lebih memilih aman yaitu diam hahahha.

    Liked by 1 person

    1. Ada sih suku tertentu di Indonesia yang biasa ceplas-ceplos. Secara umum memang masih unggah-ungguh. Nah, itu dia kita suka banyak takutnya hahaha. Padahal kalau saling sharing pendapat kan malah bisa sinergi atau berbagi pandangan. Paling enak, tetap utarakan tapi dengan cara yang alus, atau dengan kalimat tanya. 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s