Imigran di Prancis

Kemarin ada berita tentang runtuhnya pemerintah Afganistan beralih ke Taliban. Ada seorang kawan blogger yang bercerita bagaimana reaksi rakyat di Turki tentang berita itu. Serta sikap mereka terhadap imigran dari negara Timur Tengah (disinisin). Dia bersyukur bahwa dirinya sebagai orang Indonesia nggak ikutan diperlakukan seperti itu. Maklum muka kita kan jelas melayu-melayu begitu.

Kilas balik lagi, karena ada potongan-potongan memori yang datang. Pengalaman saya soal imigran di Prancis mungkin nggak seberapa, pasti ada yang lebih bisa detail lagi, tapi ini yang saya ingat selama tinggal disana.

Disclaimer dulu, pendapat di bawah ini subyektif, ya. Nggak menganggap pihak sana baik dan sini jelek.. Menurut saya saat berhadapan dengan perilaku, pada akhirnya harus dilihat secara individu, bukan ras, kelompok, atau keumuman.

Di Prancis, walaupun atas nama liberté, egalite, fraternité, nggak bisa disembunyiin namanya prasangka itu ada. Manusiawi. Orang banyak belajar dari kasus dan pengalaman. Terutama atas sesuatu yang asing.

Di kota yang kecil, dimana jumlah penduduk imigran nggak terlalu banyak. Saya baru ketemu sama muka-muka Timur Tengah itu saat pada bareng-bareng sholat di masjid. Atau di tempat apapun yang disediakan. Di sana baru, deh saya mulai merasa ada di negara lain dari negara lain. Karena bicaranya pakai bahasa Arab semua! Khotbahnya juga. Saya tinggal amin-amin saja, deh. Padahal mungkin khatib-nya lagi ngomongin tentang naiknya barang kebutuhan pokok!

Di kota besar tempat turis macam Paris dengan berbagai bangsa keluar masuk, orang jauh lebih cuek. Tapi kalau sudah menyangkut masalah pekerjaan dan pergaulannya, suka muncul dinamika tertentu.

Para imigran dari Timur Tengah ada yang membaur, namun ada juga yang kesulitan. Mungkin karena drastisnya perbedaan budaya. Kalau yang pertama, kelihatan dari bergaulnya dengan siapa. Yang jelas, kekeluargaan di kelompok mereka memang kuat banget.

Saya punya kawan cewek yang sudah nggak kelihatan ke-Timur Tengah-annya. Pakai baju layaknya cewek Prancis. Kaget karena ternyata dia masih merayakan Hari Raya Muslim. Sebetulnya di Prancis sendiri ada sejarah panjang perpaduan Barat-Timur, semenjak di bukanya pintu bagi imigran, jauh sebelum kasus Suriah. Jadi kadang kita ngeliat anak mix. Mereka cakep-cakep. Dan mereka yang sudah berintegrasi sepenuhnya banyak yang jadi tokoh terkenal. Mulai dari tokoh politik sampai bintang film. Coba saja lihat film-film Prancis, pasti ketemu muka-muka Arab.

Di kalangan pergaulan dengan orang Indonesia di Prancis dulu, sudah biasa beredar pesan untuk berhati-hati kalau berurusan dengan orang Timur Tengah, khususnya Arab. Ya, cerita-cerita tidak mengenakkan begitu. Bahkan bila bicara di dalam metro soal kasus, yang melibatkan orang Arab, tapi pada takut di sekitar ada yang kesenggol, akhirnya pakai kode : onta. Langsung pada paham maksudnya apa. Sama seperti kode kita di jaman sekarang, kadrun (kadal gurun), cebong, kampret, dsb. Saya menunggu ada yang harimau atau elang, tapi entah kenapa nggak pernah ada. Ternyata ada kasta juga di perbendaharaan kata hewan.

Itu hal yang nggak baik, setuju. Tapi suka nggak suka fakta itu tetap ada. Sama seperti kondisi di Indonesia, tetap saja ada pihak yang memakai name calling untuk mendiskreditkan pihak seberang.

Gambar : pixabay.com

Kawan cowok dari Indonesia yang tampangnya ke Arab-araban, berdoa saja supaya nggak terkena prasangka. Image yang kurang bagus itu, kebanyakan timbul lebih karena perilaku oknum-oknum. Biasanya dari kalangan tidak terpelajar. Dianggap susah menuruti aturan, ngeyel, keras, malas, nggak mau berbaur, darah panas, hingga budaya patriarki yang sulit dimengerti mereka yang tinggal bebas Barat. Jadi identik dengan suka bikin ulah begitu. Padahal pasti banyak juga mereka yang berada di luar dari stereotype itu.

Tentu saja pemerintah Prancis mengadakan program-program wajib bagi imigran untuk mempermulus transisi budaya. Banyaklah cerita-cerita dari mereka yang berurusan dengan itu. Yang jelas enggak mudah. Bukan pekerjaan seribu candi Roro Jonggrang. Tapi semua itu tentu diambil dari pajak yang cukup tinggi di Prancis. Membuat para pembayar pajak merasa sudah kerja susah-susah, bayar pajak mahal-mahal tapi dipakai oleh mereka yang mau membaur saja masih susah. Lebih parah lagi kalau nggak punya keahlian atau malah malas-malasan. Identik dengan beban negara.

Di waktu yang lebih jadul lagi, saat jalan-jalan keliling Eropa, saya pernah ketemu pengungsi-pengungsi dari negara konflik tapi bukan dari Timur Tengah. Daerah Balkan tepatnya. Mereka ada yang jadi pengemis dan bergeletakan di pinggir jalan. Padahal bule-bule yang cakep dan cantiknya minta ampun. Anaknya saja kayak boneka. Sambil menyumbang yang jumlahnya tidak seberapa saya membatin sedih, duuh, mas, mbak, dek, kalau di negara saya kalian bisa jadi bintang sinetron!

Saya sendiri untungnya berwajah “lumayan Asia”. Jadi enggak sampai kena prasangka aneh-aneh. Bahkan di sebuah toko buku sampai diajak kenalan sama sepasang suami istri orang Jepang, dianggap teman senegara! Whaaaaat….? Ohya, turis Jepang dan turis Cina bisa dikenali dari cara berpakaiannya. Kalau turis Jepang, pakaiannya semarak apapun tapi mix and match-nya selalu dapat. Dan biasanya baju merek berkelas atau jahitannya sunguh rapi. Sementara turis Cina, lebih cuek dalam berpakaian dan cenderung kurang menyolok. Itu catatan benar buat copet disana. Kalau ada yang bilang saya seperti orang Jepang, mulai was-was sama pemilihan busana. Takut jadi target wkwk.

Orang Asia di Prancis lebih dianggap sebagai “saingan”. Imigran dari Cina, tidak bergantung pada bantuan pemerintah terus. Mereka dengan jaringannya yang menggurita mampu mandiri membangun banyak usaha. Di Paris ada daerah semacam Pecinan begitu, quartier Chinois, di 13th arrondisement. Disana banyak muka-muka dan makanan Asia. Yang melegenda adalah Tang Frères, supermarket Asia terbesar di Paris. Buka cabang juga di luar kota. Dengan kata lain ikut menumbuhkan roda perekonomian. Jadi walaupun ada yang memilih tidak terlalu berbaur dengan penduduk asli (kecuali masalah bisnis), secara finansial masih lebih kuat.

Gambar : wikipedia

Ohya tidak semua imigran Cina berasal dari negara tirai bambu, ya, karena ada juga berasal dari Vietnam, Cambodia, dan Laos. Dulu merupakan jajahan Prancis. Disebut Indochina. Karena bekas negeri jajahan, mereka punya keunggulan di sisi bahasa dibanding yang berasal dari daratan Cina. Jadi dikalangan imigran Cina sendiri ada kelompok-kelompoknya juga. Memisahkan antara Cina yang sudah Prancis banget dan masih in between. Kasus-kasus yang melibatkan oknum levelnya sudah beda, dari menyelundupkan orang kasus pajak sampai money laundering.

Namun seiring dengan bangkitnya kekuatan Cina, orang-orang Prancis asli mungkin mulai waspada juga. Saya saat pertama kali ke Prancis, yang namanya beli suvenir masih menemukan tulisan “made in France”. Tapi lewat dari beberapa tahun, sudah nggak ada lagi itu. Banyakan “made in China” walaupun penampakannya Eropa. Lucu, ya saat kamu bawa pulang oleh-oleh kaus atau miniatur menara Eiffel tapi tulisannya “made in China”? Murah, sih…

Berita tentang Afganistan ini tentu membuat beberapa negara Eropa mulai hati-hati. Atau ada juga yang langsung tutup pintu. Persoalan pengungsi karena konflik memang tidak ada habis-habisnya. Kadang pelan kadang seperti air bah.

Selama kita masih ada di bumi yang sama akan selalu seperti itu.

“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Terdengar simpel dan mudah. Pada prakteknya banyak yang belum sanggup atau mau menjunjung langit tanpa takut kehilangan indentitas diri.

====

Apa pendapatmu tentang kondisi seperti diatas?

Gambar fitur diambil dari pixabay.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s