Pandangan Kawan Prancis Tentang Asia

Di masa pandemi ini, banyak berita tentang kekerasan pada ras Asia di negara-negara Barat. Di Amerika ada yang memukuli seorang bapak-bapak Asia yang lagi dorong bayi. Kalau di Eropa? Silahkan googling. Restoran Jepang sampai dicoret-coret. Pandemi membuat beberapa orang yang berpikiran sempit memiliki image negatif pada Asia. Lebih banyak karena mereka marah pada kondisi pandemi yang berkepanjangan dan butuh pelampiasan.

Apakah selalu begitu pandangan orang Prancis tentang Asia?

Di posting sebelumnya saya membahas tentang pilihan setelah lulus dari sekolah di luar negeri. Akan saya sambungkan dengan tema disini.😀

Baca : Lulus Kuliah di Luar Negeri, Lalu…?

Ada suatu hal yang saya pelajari, ketika dahulu saya melakukan riset tentang Asia bersama kawan-kawan Prancis. Rata-rata bule berusia muda dan penuh mimpi. Saya mendapati bagaimana mereka selalu bersemangat sekali untuk bisa keluar dari Prancis dan berekspansi ke Asia. Ada yang di Cina, di Taiwan, Malaysia, dan Indonesia.

Kalau sudah ditempatkan di berbagai tempat di Asia itu mereka rasanya sangat keren. Apalagi kalau penempatan di wilayah-wilayah yang jarang orang tahu, langsung berbinar-binar, deh. They have one hell of story to tell!

Saya melihat sendiri bagaimana membludaknya peminat kelas-kelas yang bertemakan tentang Asia di kampus. Nomor satu Cina, sisanya negara-negara di seputarannya termasuk Asia Tenggara.

Dan saya menyadari sesuatu. Bagi para bule ini, Asia adalah gambaran masa depan. Ibarat seorang Columbus, sebuah benua misterius yang potensial di eksplorasi dan mengundang banyak rasa ingin tahu. 🧐

Di atas semua, Asia terlihat begitu dinamis! 😳

Ibarat sebuah pegunungan, statusnya adalah pegunungan muda, masih banyak gunung berapi. Sementara Eropa sendiri mirip pegunungan tua. Di benua ini, segala sesuatunya sudah stabil dan teratur. Hidup berjalan lambat. Bahkan ada yang lebih ekstrim lagi visinya, bahwa benua Eropa makin lama akan semakin “dingin”. Pertumbuhan penduduk sudah jadi bentuk piramida terbalik, karena semakin sedikit anak yang lahir. Anak akan jadi asset negara yang berharga dan dikuasai. Suasananya sangat beda jauh dari era revolusi industri dan eksplorasi dahulu.

Saat kuliah dan membuat proyek bertema IT bersama, saya juga diberi gambaran ke depan, bahwa orang akan lebih banyak kerja remote. Alias kamu tidak perlu ada di sebuah negara dengan biaya hidup dan pajak tinggi untuk bersaing secara global. Dan impian para bule ini bisa kerja dari negara tropis ala-ala Hawaii atau Bali tapi usahanya di mana-mana.😎

Kalau mau menaburkan benih, taburkanlah di tanah yang masih subur dan potensinya besar, istilahnya.

Kepingin nyeplos kepada para kawan-kawan Prancis ini, bagaimana cara kita menatap negara mereka dan Eropa 😆, tapi saya mikir-mikir. Nggak usahlah. Mungkin memang rumput tetangga kelihatan hijau berlaku juga disini. 🙄🤣

Saya salut aja pada cara berpikir kawan-kawan bule muda itu, mereka sangat visioner. Kalau kita melihat sesuatu suka jangka pendek, yaitu sebatas diri kita sendiri dan keturunan, ala-ala harapan orang desa yang berurbanisasi hidup di kota. Nah, mereka sejak muda levelnya sudah eksplorasi. Mirip banget dengan cara berpikir nenek moyang mereka di masa lalu, moga-moga dalam level yang lebih etis, ya (harapan).🙄

Memang ada juga bule yang mikirnya masih taraf lokal dan tidak visioner. Alias nggak mau pergi jauh-jauh dari kampungnya. Tapi kelihatan kok perbedaan cara berpikir dengan yang lain. Mereka yang bercita-cita atau pernah berpetualang di negara asing, umumnya jauh lebih open minded dan ramah kepada orang dari kultur lain. {{Jadi rada de ja vu 🤣}}

Sementara bule yang konservatif alias dari generasi tua well ada aja yang enggak suka banget sama Asia. 🙄 Kalau dengan Cina karena bikin persaingan di negara sendiri tinggi serta idealisme demokrasi. Kadang bawa alasan pribadi juga seperti bagaimana anak-anak mereka “berubah” setelah tinggal di salah satu negara Asia. 😅

Lama saya melakukan kontemplasi untuk masa depan. Secara kultur dan agama saya sendiri lebih dekat dengan Asia.  Ada bagian kebebasan  dari budaya Barat yang saya cocok dan ada yang tidak.  Kultur Asia juga memiliki banyak kelemahan. Namun lepas dari banyak kekurangan yang ada, I’m proud of being Asian and Indonesian, off course. Mengingat bagaimana Belanda sampai susah hengkang dari tanah subur disini, sampai minta bayaran ke pemerintah Indonesia (jujur saya suka kesel sih nginget sejarah itu). Indonesia is gold. Saya lihat juga gimana perjuangan kenalan saya WNA yang berapa tahun lamanya ditolak untuk jadi WNI.

Belajar dari kawan-kawan Eropa (nggak semuanya kawan ini orang Prancis), saya melihat bahwa kehidupan itu idealnya memang selalu dinamis. Memiliki prediksi serta visi yang besar dan tepat, sangat krusial. Berpikir untuk lebih dari dua generasi ke depan, kalau perlu.

Kita bisa memilih jadi bagian suatu masyarakat yang sudah tertata rapi, atau jadi bagian dari orang-orang yang membangun dan berinvestasi, demi mewujudkan itu.

Saya suka menjadi bagian yang terakhir. Saya lebih cocok hidup di lingkungan yang dinamis. Kalau niatnya tinggal di luar negeri sekedar demi konten cerita, ‘kan tinggal menabung dan jalan-jalan saja,  Yang penting di keseharian, kalau mau kulineran berempah-rempah murah tidak pakai repot. Mau mancing juga nggak usah kedinginan (eh, makin kemari, kenapa alasannya kok makin enggak banget dan jauh dari visioner 🤣😂).

Back to laptop. Ahem. 😑

Singkat kata, sama seperti mereka, Asia pas untuk visi ke depan saya. 😃 Dan apa yang kawan-kawan Prancis bicarakan bertahun-tahun lampau, mengenai kebangkitan Asia, di masa sekarang banyak  terbukti satu persatu. Yaitu saat Cina menjadi raksasa teknologi baru, meledaknya budaya Korea dan karya sutradara filmnya yang berhasil memenangkan Oscar. Begitu pula tentang trend kerja remote. 🙄 Ah. Terlalu banyak contoh yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu!

Itulah hal menarik, yang saya simpan sebagai wacana, dari bertukar-pandangan dengan kawan-kawan Prancis. Saya belum tahu apakah adanya pandemi akan merubah pandangan mereka tentang Asia. Tapi saya yakin nggak, karena mereka adalah orang-orang terpelajar, tangguh, dan tidak melihat suatu kejadian di jangka pendek saja. 😀

Gambar : pixabay.com


8 thoughts on “Pandangan Kawan Prancis Tentang Asia

  1. untuk asia, saya malah kepikiran tibet atau nepal atau mongolia gitu pheb…ketimbang asia yng udah maju2..cina, korea, jepang, taiwan, untuk menggali cerita tentang raksasa2 asia ini skrg udah gampang bgt..pernah kepikiran gara2 nonton acara petualangan gitu di netflix, kok kayaknya seru…saking adem ayem nya..hahah eh tapi hidup di pluto jg suka aja sih ngelah ngeluhhh malah kepikiran di tempat jauh

    Liked by 1 person

    1. Kalau untuk konten cerita atau video memang mkn remote makin unik 😅 Untuk tinggal seterusnya aplg bawa keluarga harus lihat fasilitas juga spt sekolah dsb. Untuk investasi hrs lihat resources, posiisi konsumen dan…sda.🙄

      Btw di negara2 Asia maju bnyk tempat remote juga lho. 😀

      Like

      1. Beneeer tuh. Negara Asia yg maju, kayak Jepang aja, msh banyaaak tempat2nya yg remote. Kayak Nagoro. Itu desa yg JD bucketlistku nomor 1 mba. Isi desanya unik, banyakan boneka drpd manusia. Agak spooky memang, tp yg begtu aku paling suka 😀

        Aku sendiri merhatiin kok, Orang2 bule yg banyak traveling, bukan cuma bule sbnrnya, semua ras pokoknya, makin banyak dia traveling, makin terbuka memang pikirannya. Dan sebaliknya. Makanya kalo udh ketemu Ama orang ngeyel akut, apalagi yg ga bisa trima perbedaan, gampang kemakan hoax, ini dipastikan org yg jrg jalan2 . Kalopun jalan cuma ke tempat yg menurut dia hebat dan sesuai kesukaannya.

        Makanya aku udh bilang ke anak2ku, perbanyaklah jalan, lihat dunia, biar pikiran kalian ga sempit.

        Aku sendiri suka dengan negara2 Eropa trutama yg 4 musim, ada winter :D. Tapi hanya winternya doang yg aku suka. Aku ga tertarik musim lainnya. Makanya utk tinggal di sana ga deh :P. Cukup untuk liburan aja :D. Memang LBH enak Indonesia kemana2

        Like

      2. Beneran, manusia itu dimana-mana sama saja, ya mbak. Yang kurang jalan-jalan banyak. Beruntung punya kemauan atau kesempatan bisa traveling.

        Winter hahaha kalau sekali dua asik. Tapi tiap kali lama-lama ya bosan juga…

        Like

  2. Waah padahal orang Asia itu suka pada berandai-andai gimana rasanya tinggal di Eropa. Lah ternyata orang Eropa malah pengen tinggal di Indonesia. Ahahaha.
    Menarik nih, pandangan visioner soal masa depan, khususnya soal generasi-generasi ke depan. Emang ya kalo hidup tuh harus mikirin anak cucu. Mikir masa depan oke, tapi juga baiknya menikmati masa kini supaya hidup lebih hidup.
    Btw, hidup di Asia sejauh ini asik, iklim bersahabat, rempah-rempah di mana-mana, dan biaya hidup cenderung lebih murah. Oh satu lagi,, pajaknya nggak setinggi di Eropa. Ahahaha.

    Like

    1. Hahaha percayalah mbak, kalau sudah dari kecil kayak mereka ngerasain gimana rasanya musim dingin panjang, tahu tempat bermatahari terus langsung gas!🤣Pa-ra-di-se.

      Benar, banyak minus tapi plusnya juga ada. Pajak disana gede karena buat support banyak hal dari kesehatan, pendidikan, dll.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s