Alumni Prancis dan Adaptasi

Belakangan ini karena banyak momen-momen WFH jadi banyak ide buat nulis.

Hal positif lain, merasa bosan jenuh, banyak yang mulai sosialiasi lagi secara daring. Apalagi kalau bukan lewat WA. Seperti contohnya, saya kemarin-kemarin ngalamin fenomena alumni-alumni Prancis angkatan saya mulai bikin grup. Undang sana- undang sini.

Ngomongin alumni Prancis, saya ingat kelas bahasa Prancis sebelum diterjunkan ke medan laga…eh negaranya langsung. Para tokohnya sungguh tak terlupakan. Berasal dari berbagai latar belakang, lucu-lucu semua. Kapan-kapan akan saya ceritain disini, lika-liku sepak terjang kami dahulu dengan bahasa Prancis.

Setelah saya lihat, banyak juga ya yang sudah back for good. Paling cuma satu orang angkatan saya yang masih nyangkut di Prancis. Dan seperti biasa, mereka yang masih di luar itu lebih sulit menjalin persatuan dan kesatuannya. Bahasa lainnya adalah disappear without a trace. Bahasa Indonesianya ilang di telan bumi.

Tapi it’s OK, kita semua juga ngertilah. Rata-rata semua orang sibuk, enggak punya waktu untuk kepo atau mencari seseorang yang memang nggak mau dicari. Nanti juga kalau pulang ke Indonesia si perantau akan kontak-kontakan lagi. Begitu pemikirannya.

Ya, bisa saja jatuh ke pendapat julid,

“Mereka baru kontak kalau lagi butuh.”

Allez-y, ini bukan soal perbedaan waktu juga, tapi perbedaan budaya.

Mereka yang masih menclok Prancis tentu sudah beradaptasi dengan budaya sana (yang tidak terlalu hiruk pikuk riuh di medsos dan WA). Termasuk kebiasaan yang lebih berjarak, menghindari kalau nggak akrab-akrab banget. Pasti kaget kalau tiba-tiba harus gegar budaya negeri sendiri yang semarak ala-ala merak.

Setelah dipikir-pikir, saya melihat banyak hal positif tentang rentang waktu tinggal saya dulu, kalau saya tinggal terlalu sebentar, mungkin saya akan jadi halu membanding-bandingkan hidup disana dan disini. Karena nggak ngerasain sisi kurang asyiknya tinggal disana.

Kalau terlalu lama, mungkin saya jauh lebih sulit beradaptasi saat kembali. Sebab yang namanya kebiasaan bukan cuma psikis tapi fisik. Idealisme dan energi saya juga masih di level tinggi, sementara kematangan berpikir dan pengalaman hidup masih kurang banyak, yang ada saya bakal ngegas terus kalau ada yang bisa dikritisi. Lalu jatuh frustasi sendiri karena merasa seperti menerjang tembok.

Saya ingat banget bagaimana fisik saya masih “membiasakan diri” saat menyebrang jalan. Karena dulu pakemnya badan adalah lampu merah bisa nyebrang melenggang santai. Sekarang walaupun lampu merah…kudu tetap was-was karena suka tiba-tiba ada motor slonong boy.

Untuk saya semua sudah berimbang. Menilai dalam kacamata barat dan timurnya saya harap bisa lebih obyektif juga. Eh. Kasih tahu kalau masih rada miring ke kiri kanan, yah. Hahaha.

Sebagai catatan, bagi mereka yang sudah lama banget tinggal di luar, tapi sudah berusia lanjut lalu back for good, kelihatannya malah lebih adaptif (ngeliat dari banyak contoh).

Mungkin karena motivasinya sudah beda dan tuntutan hidup nggak terlalu banyak kali, ya. Sudah lebih legowo dan nrimo, istilahnya Seperti salah satu kenalan sepuh yang lama tinggal di Eropa, bilangnya…apapun yang terjadi ingin dikuburkan di tanah air.

Demikian juga yang saya lihat dari kawan-kawan alumni Prancis. Mereka sepertinya nggak ada sisa-sisa ke-Prancis-an sama sekali hahaha…Sudah balik jadi orang Indonesia. Atau yang keluar mungkin “persona” saat kita belum kesana? Entahlah.

Nggak terhitung hal-hal seru yang para alumni ini dulu lakukan sebelum dan saat ada kesana. Cerita yang paling saya ingat itu tentang ehm..jangan dicontoh, nekad nyetir antar daerah di Prancis tanpa SIM Eropa.

Banyak keuntungan saat di Paris saya selain bergaul dengan Parisian, tetap bergaul juga dengan anak-anak Indonesia (walau nggak banyak), lepas dari plus dan minus.

Manusia nggak ada yang sempurna. Saya juga nggak sempurna. Jauh dari itu.

Daripada berutopia bahwa ada manusia di dunia yang kayak gitu, kenapa nggak kita rangkul saja ketidaksempurnaan kita, tertawakan, lalu pelan-pelan perbaiki.

Sama seperti kondisi Indonesia di tengah COVID-19 sekarang. Memang sangat banyak kekurangan, tapi kan ada juga orang-orang yang sedang berusaha keras agar semua menjadi lebih baik? Kalau fokus terus sama yang dianggap nggak beres, mereka yang berjuang ini mau dikemanakan coba….

Yakinlah, dunia akan jadi lebih baik.

===

Kamu punya teman-teman yang menarik?

Gambar : Pexels dari Pixabay


9 thoughts on “Alumni Prancis dan Adaptasi

  1. Menarik sekali Mbak, selalu bisa melihat segala sesuatu dari berbagai persefektif. Memandang segala sesuatu bukan fokus pada kelemahan saja. Tapi bisa menerima kekurangan dg terus memperbaiki
    Disekelilingku rasanya butuh banyak Mbak seperti ini yg muncul ada di tengah kalangan untuk bisa menjadi penenang ❤️

    Liked by 1 person

  2. Bagus ya jadi banyak ide untuk nulis…

    Seneng baca cerita di tulisan ini. Itu beneran ya pernah nekad nyetir antar daerah tanpa SIM? Jadi penasaran, kalau kena tilang karena tidak bawa SIM ada hukum nya disana ya?

    Salam,

    Liked by 1 person

    1. Maaf, saya kurang detail ceritanya, sudah saya koreksi. Maksudnya nggak pakai SIM Eropa. SIM nya tetap ada tapi SIM Indonesia yang memuat tulisan driving licence. Kalau sekarang nggak tahu, apakah masih diijinkan. Ya itu pengalaman nyata teman-teman dulu…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s